Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2009

Menilik Kriteria Tisu yang Baik

Menilik Kriteria Tisu yang Baik

Saputangan dan tisu memang dapat menjadi alat untuk menersihkan wajah, mulut ataupun bagian tubuh lainnya. Namun, kini tisu tampaknya menjdi semakin populer karena karena sifatnya yang praktis. Ya, benda yang satu ini memiliki sifat hanya sekali pakai dan tidak perlu dicuci seperti halnya sapu tangan atau serbet kain.
Jika diamati secara seksama, ternyata tisu memiliki fungsi yang beragam. Contohnya, kini beberapa rumah makan banyak menyediakan tisu di setiap meja yang berfungsi untuk membersihkan sisa makanan di mulut maupun tangan.
Nah, melihat frekuensi penggunaan tisu yang semakin banyak dan luas di masyarakat, sebaiknya Anda jeli memilih tisu. Tisu merupakan benda yang sering bersentuhan dengan bagian-bagian tubuh terutama kulit. Jadi, jika tidak menggunkan tisu yang tepat, bisa-bisa kesehatan Anda menjadi terngangu.
Contohnya, ketika Anda sedang mengalami flu dan bersin-bersin, kemudian menggunakan tisu yang tidak higienis. Pada kondisi tersebut, bisa-bisa Anda mendapatkan penyakit tambahan selain penyakit flu dan bersin-bersin. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda menggunakan tisu yang sudah terbukti higienis, lembut dan kuat.
Salah satu bahan pembuat tisu yang baik adalah virgin pulp. Tisu yang terbuat dari 100% virgin pulp akan menjadikan tisu lebih lembut dan kuat. Selain itu, tisu yang diproses dengan suhu pemrosesan di atas 500 derajat celcius terbebas dari kuman atau bakteri yang merugikan kesehatan. Tisu yang baik juga memperoleh pemeriksaan secara rutin dari lembaga yang kompeten.
Jangan lupa juga, sebaiknya tisu yang Anda pilih tidak mengandung OBA (Optical Brightenning Agent) sebab dapat menyebabkan iritasi kulit. Selain faktor kesehatan, akan lebih baik lagi, jika tisu tersebut tersedia dalam berbagai ukuran dan kemesan yang dapat disesuaikan dengan berbagai situasi dan kondisi.

Sabtu, 07 Maret 2009

Prediksi UN 2007


Prediksi Soal UN 2007 dan Kelulusan
10 Februari 2007 oleh
Urip.WP.Com
“Tulisan ini tidak berisi tentang prediksi soal mata pelajaran seperti yang banyak dicari itu”
Dengan dinaikkan standar nilai ujian nasional, maka tidak hanya siswa sibuk mencari informasi tentang soal UN. Guru juga. Siswa-siswa yang rajin kebetulan kesasar di blog ini sering menanyakan atau sekedar meminta dikirimi bocoran soal . Inilah yang sedang terjadi dikalangan siswa, meskipun itu hanya beberapa. Tidak ketinggalan guru juga berusaha membantu mencari berbagai soal yang akan digunakan untuk persiapan/latihan dalam menghadapi ujian nasional. Di samping juga memanfaatkan buku-buku komersial yang dijual bebas.
Ujian adalah segalanya buat siswa kelas 3 SMA dan SMP, kelas 6 SD. Segala upaya dilakukan, baik secara anggun dan kasar. Mereka ada saja yang mengira blog ini adalah blog untuk melayani hal-hal semacam itu. Salah khan? Maka jika komentarnya bernada seperti itu maaf saja langsung dihapus di blog ini. Tapi ada beberapa siswa yang memberikan komentar yang bernada mengingatkan agar rekannya tidak berbuat curang. Yang terakhir ini saya tetep pertahankan.
Dari statistik blog pun tiap hari untuk referrernya selalu ada untuk kata prediksi soal UN 2007 dan jumlahnya cukup banyak. Sekali lagi maaf kalau yang dicari tidak ada dalam blog ini. Sedangkan untuk tulisan dengan judul Perihal Ujian Nasional 2007 selalu menjadi Top Klik di blog ini. Kalau yang ini terkait dengan Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional 2007 ini. Boleh-lah diketahui. Bisa dijadikan acuan tegas. Tinggal diperkirakan saja model soalnya bagaimana. Demikian inilah saya kira kalau memang hendak mengejar nilai atau kelulusan.
Mungkin ini adalah fenomena yang lazim di saat mendekati masa ujian. Semua baik siswa-guru sambil berharap mendapatkan banyak informasi terkait ujian nasional 2007 nanti. Ada sesuatu yang jelas sekali bahwa beginilah keadaan pendidikan kita. Nilai dan kelulusan adalah target utama, perolehan ilmu divonis dengan angka. Dan ini di gebyah uyah (diberlakukan dengan tanpa pandang bulu, meskipun manusia memang gak berbulu tapi ber-rambut… hallllah nglantur). Sudah bosan memperbincangkan hal ini, tapi kenapa ini tetep saja dijadikan pedoman suatu kelayakan lulus tidaknya siswa.
Masih ada alternatif lain. Peran guru bisa dimaksimalkan untuk hal ini. Lembaga sekolah bisa diberikan kewenangan dalam hal kelulusan. Jerih payah belajar siswa tidak mesti diukur dengan nilai akhir standar nasional sebagai patokan. Ini bukan berarti menghilangkan standar yang telah ada, bahkan kalau bisa ditingkat. Atau bisa juga menggunakan sistem standar nasional dan standar wilayah. Bisa saja siswa tidak lulus berdasar standar nasional tapi tetep dinyatakan lulus untuk standar wilayah. Sebab disparitas antar wilayah jelas selalu ada dengan berbagai alasan keterbatasan. Ini mungkin akan sedikit bisa meredam gejolak anti UN. Saya tidak tahu apakah yang seperti ini sudah pernah digagas oleh pengambil kebijakan tingkat atas.
Gimana yah?

Jumat, 20 Februari 2009

Valentine




Sejarah Hari Valentine



Perayaan Kesuburan bulan Februari



Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di
Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Hari Raya Gereja
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia
1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:
seorang
pastur di Roma
seorang
uskup Interamna (modern Terni)
seorang martir di provinsi Romawi
Africa.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan
Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke
gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun
1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Valentinius
Guru ilmu
gnostisisme yang berpengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep... dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan"...".
Era abad pertengahan
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan
cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 February adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris Pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (“Percakapan Burung-Burung”) bahwa
For this was sent on Seynt Valentyne's day (“Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)
Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasanagan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan
British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai
martir (mati syuhada), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh
Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
Hari Valentine pada era modern
Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh
Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)
Tradisi Hari Valentine di negara-negara non-Barat
Di
Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di
Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Di
Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka. Pertokoan dan media (stasium TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.